Kamis, 05 Januari 2012

5. Anak Emas

 Prastiwi tinggal berdua dengan ibunya di rumah mereka yang sederhana di dalam sebuah gang sempit yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari pusat kota. Bapaknya meninggal setahun yang lalu, tepatnya lima belas bulan yang lalu. Dua saudaranya sudah meninggalkan rumah setelah  menikah dan berada jauh di luar kota Malang, tempat kelahiran mereka. Budi, kakak tertuanya yang lulusan Akabri tinggal di Batam. Sementara Lestari yang sekarang ini tengah menempuh sarjana S2-nya tinggal di Semarang bersama suaminya. Seorang pembantu yang mengabdi sejak ibunya baru menikah dulu datang pada pagi hari untuk mengerjakan pekerjaan rumah, lalu pulang menjelang sore harinya.

Hubungan keduanya buruk. Prastiwi bahkan lupa kapan terakhir dia makan bersama di meja makan bersama ibunya. Keduanya hampir tidak pernah terlibat percakapan meski tinggal dalam satu atap. Penghubung keduanya tidak lain adalah mbok Jum, pembantu mereka. Prastiwi mengerti dan sangat maklum dengan sikap ibunya yang tidak hanya tidak memperdulikannya. Prastiwi bahkan merasa ibunya  mungkin tidak akan menganggapnya lagi sebagai anaknya, seseorang yang dulunya pernah bercokol di dalam rahimnya selama sembilan bulan lamanya. Namun begitu Prastiwi masih bersyukur ibunya masih mau mengirim uang lewat mbok Jum untuk keperluan kuliahnya. Dan ia sangat menghargai uang pemberian ibunya itu walau diberikannya dengan cara yang yang tidak wajar. Melalui seorang perantara. Melalui mbok Jum.Padahal ibunya bisa memberikannya langsung kepadanya. Wong mereka hidup dalam satu rumah. Tapi ibunya mungkin sengaja menyiksanya atau mengukumnya dengan cara yang dikehendakinya. Prastiwi menerima apapun bentuk  hukuman ibunya. Yang lebih dari sekedar mendiamkannya pun ia akan terima.

Ia tahu, dosanya di masa lalu bagi ibunya tidak akan terampuni oleh kebaikan apapun yang diperbuatnya. Bahkan Tuhan Semesta Alampun lebih dari semarah ibunya. Prastiwi tahu, Prastiwi merasa, Allah yang tetap ia menyembahNya lima kali dalam sehari itu tak kan bergeming dengan bentuk sujudnya yang sekusuk apapun. Allah tidak memperdulikannya. Allah tidak mengacuhkannya. Oh, betapa berat sesungguhnya jalan hidup yang tengah dilaluinya. Selama lima belas bulan ini prastiwi baru menyadarinya, bahwa ia begitu sendiri dan tidak punya siapa-siapa. Jika Tuhannya benar-benar marah padanya, kepada siapa kini ia bisa berharap perlindungan? Jika Allah benar mengucilknnya dari sentuhan kasih sayangnya kepada siapa sesungguhnya ia akan memohon keselamatan?

Entah kapan mulainya.bayangan-bayangan itu terus mendatanginya. Tidak hanya saat ia terlelap, kadang saat ia benar-benar tengah sadar sepenuhnya. Ia menyelinap dalam ingatannya. Ia muncul di antara kedip matanya. Prastiwi tak pernah berhasil mengusirnya. Ia tak pernah berhasil menghentikannya. Pikiran-pikiran itu seolah bukan datang dari dalam dirinya. Tapi dari mana? Entahlah. Sedetik, setengah menit, bahkan hingga bermenit-menit cuplikan gambar tertayang dengan begitu jelas di otaknya. bagai sebuah video yang distel ulang kemudian di ualng dan diulang lagi.

Rumah penuh oleh orang yang datang melayat. Sementara sosok yang membujur di ruang depan dengan ditutupi selembar jarit itu tak ain adalah bapaknya. Ibunya sudah tidak bisa lagi menangis. Wajahnya beku, penuh kabut dengan pandangan mata menerawang jauh dan koson. Sementara Lestari kakak perempuannya sudah berkali-kali dibopong karena pingsan. Ia menangis pilu setiap kali teringat bapaknya akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sementara Budi kakak tertuanya dengan wajah murung hanya terlihat sesekali menyeka matanya yang basah oleh air mata.

Dari hari ke hari perasaan berdosa itu mulai mencabik hatinya. Pedih, perih. Prastiwi menutup wajahnya ketika bayangan tubuh kaku bapaknya masuk ke dalam liang lahat. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengibaskan rentetan hal menyedihkan sepanjang hidupnya. Selesai acara pemakaman, Prastiwi tidak pernah mencoba mengenang bapaknya walau hanya sekedar menatap sejenak foto bapaknya. Ia juga tidak sekalipun pernah pergi ke pemakaman hingga detik ini. Ia hanya sesekali mendoakan bapaknya seusai sholat tanpa pernah menautkan emosi dalam jiwanya. Semua itu ia lakukan agar bisa tetap tegar. kalau ia larut dalam kesedihan lalu menangis oleh rasa kehilangan yang begitu dalam, ia takkan bisa melanjutkan hidupnya. Bukankah ia harus tetap hidup, bisa kuliah sampai lulus lalu bekerja? Sebagaimana layaknya yang dilakukan orang yang beranjak dewasa. Ada atau tak ada bapaknya, ia akan tetap seperti itu. Ia takkan selamanya menjadi anak kecil. Ia akan beranjak dewasa dan menjadi orang yang mandiri, tidak cengeng dan tetap tegar walau keadaan sesulit apapun.

Namun ketegaran itu agaknya kini sudah rapuh. Prastiwi kadang merasa tak kuat menahan berat tubuhnya. Ia jadi gampang tersentuh hanya melihat seorang ibu berpakaian lusuh menggendong anaknya yang juga berbaju kumal datang padanya untuk mengemis dan meminta sedekah. Dan sikap serta perlakuan ibunya saat ini  sungguh membuatnya tertekan. Ia pernah mencoba bicara dengan ibunya, namun ibunya tak bergeming.  Ibunya tak perduli dengan apa yang dikatakannya. dan tidak perduli apa-apa yang akan dilakukannya. Suatu ketika ia begitu rindu belaian ibunya di ruang tengah dan saat itu ia  bercerita tentang  pelajaran di sekolah, tentang guru-gurunya, juga tentang teman-temannya.

Prastiwi ingin minta maaf. Tapi ia merasa ibunya tetap tidak akan  memaafkannya. Di satu sisi ia merasa tidak bersalah. Bapaknya meninggal karena memang sudah takdir. Setiap makhluk hidup hanya Allah yang menentukan kapan akan berakhir masa umurnya. Jadi ia tidak mengerti kenapa ibunya menyalahkannya atas meninggalnya Bapaknya.

"Bapak meninggal karena sakit jantung. Sudah lama Bapak punya penyakit jantung," Prastiwi mencoba mengingatkan ibunya waktu itu.

"Kalau kamu tidak membantah kata-kata Bapakmu, maka jantung Bapak tidak akan kambuh. Dan Bapak tidak akan meninggal. Kamu dengar?" sahut ibunya tajam.

Prastiwi terdiam. Ia enggan menyahuti kata-kata ibunya. Ia sungguh menyayangkan pendapat ibunya yang keliru menilai sebuah kematian seseorang. Kematian itu suatu takdir. Siapa yang bisa mencegahnya? Kalaupun bapaknya sakit jantung karena dia, lalu yang mencabut nyawa bapaknya kan malaikat utusan Allah? Ia menghela nafas diam-diam.

Prastiwi memang anak emas bagi bapaknya. Apapun yang dia minta, pasti akan dipenuhi. Begitu dekatnya hubungan Prastiwi dengan Bapaknya. Bahkan setiap kali dia sakit, bapaknyalah yang ada di sampingnya dan merawatnya.

“Sembuh kamu ya Nak, nanti Bapak akan belikan kamu motor,” bujuk Bapaknya sembari mengompres dahi putri kesayangannya dengan lap basah. Tubuh ringkih itu terbaring lemah di tempat tidur. Tidak bergerak. Sejenak matanya yang terbuka sayu, lalu  kembali terpejam.

Prastiwi lolos seleksi di sebuah SMA favorit. Dan ia benar-benar mendapat hadiah motor seperti yang dijanjikan bapaknya. Dan dengan   motor itu pula ia terjatuh saat berboncengan dengan temannya. Luka memanjang di bagian lengannya itu membekas hingga sekarang.

Ketika naik ke kelas tiga, Bapaknya mulai membicarakan hal-hal yang membuatnya tercengang, terperangah, dan marah.

“Nanti kalau lulus, kamu kuliah di tempat mbakyumu kuliah dulu itu, Ndhuk. Kamu ambil fakultas Kedokteran. Bapak pengin kamu nanti jadi dokter. Hmm, Bapak akan bangga sekali padamu.”

 “Tapi Prastiwi pengin jadi guru kayak ibu, Pak,”

“Tidak. Mbakyumu sudah jadi guru, mosok kamu juga jadi guru? Kamu ke Kedokteran saja, ya?”

“Ah, Bapak,” gerutunya.

Padahal Bapaknya selalu  mengatakan bahwa masa depan dirinya ada di tangannya sendiri. Tapi kenyataannya bapaknya selalu memutuskan sendiri segala sesuatu yang berhubungan dengan masa depannya. Yang lebih membuatnya geram adalah ketika bapaknya mengatakan bahwa Bapaknya sudah menjodohkan dirinya dengan laki-laki, anak dari temannya waktu masih dinas di militer dulu.

“Bapak ini, apa-apaan sih?” protesnya seketika. “Katanya masa depan Prastiwi ada di tangan Prastwii sendiri? Tapi kenyataannya Bapak malah menjodoh-njodohkan Prastiwi dengan orang yang belum tentu Prastiwi sukai!”

“Semua itu untuk kebaikanmu, Ndhuk. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya hidup dengan bahagia.”

“Tapi Prastiwi nggak akan bahagia kalau Bapak terus mengatur, mendikte dan menjodoh-jodohkan Prastiwi dengan orang lain. Prastiwi bisa nyari jodoh sendiri. Percayalah, Pak, Prastiwi nggak akan mengecewakan Bapak. Prastiwi akan membuat Bapak bangga nanti.”

Bapaknya terlihat menggeleng dengan wajah kecewa. “Tidak, Ndhuk, masalah perjodohan itu sebaiknya jangan kamu tolak,” pintanya dengan sangat.

“Jaman sekarang nggak ada lagi model jodoh-jodohan begitu, Pak. Orang bisa mendapatkan pacar dengan mudah  lewat internet, twitter atau facebook. Nanti Bapak akan Prastiwi carikan calon mantu seperti yang Bapak inginkan. Bapak mau yang kayak apa? Yang ganteng? Kaya?Punya jabatan? Atau....”

“Prastiwi!” tegur ibunya tajam.

“Pokoknya aku nggak mau dijodoh-jodohkan!  Aku akan minggat dari rumah kalau Bapak dan Ibu terus mamaksa aku menerima perjodohan itu!” ancamnya.

“Prastiwi!” seru ibunya lebih keras.

Tanpa memperdulikan keduanya, Prastiwi bangkit dan melangkah lebar menuju kamarnya. Tidak digubris panggilan ibunya di belakangnya.

Rahayu, ibunya Prastiwi adalah seorang istri yang patuh dan hormat kepada suami. Selama mereka menikah, tidak pernah ia membantah atau bersikap menentang terhadap suaminya. Apapun keputusan suaminya selalu diterimanya dan didukungnya. Dan melihat Prastiwi, anak ragil mereka yang bersikap membantah Bapaknya begitu, ia jadi geram dan sekaligus  menyalahkan dirinya sendiri, karena     merasa dirinyalah yang selama ini yang mendidik anak itu.

“Prastiwi, dengarkan Ibu,” kata ibunya ketika berada di kamar Prastiwi.

Gadis itu duduk di pinggir kasur dan bersandar ke tembok sambil membekap guling. Matanya yang berkaca-kaca cepat diuasapnya dengan punggung tangannya. Begitu mengetahui kehadiran ibunya, hatinya makin kesal. Ia tahu ibunya pasti akan membujuknya. “Apa Bapak dan Ibu punya hutang dengan seseorang?” tanyanya dengan ketus sambil matanya menatap ibunya dengan tajam.

“Hutang? Kami nggak punya hutang dengan siapapun,” sahut ibunya.

“Terus, kenapa Bapak dan Ibu terus memaksa Prastiwi dan menjodoh-jodohkan dengan orang lain? Prastiwi merasa jadi tumbal saja!”

“Kamu ini ngomong apa!” sergah ibunya dengan matanya yang galak.

Namun Prastiwi tidak takut dengan apapun saat ini. Hatinya galau dan gusar membayangkan keputusan Bapaknya yang sepertinya tidak bisa diubah itu. Apa seperti itu yang disebut kasih sayang orang tua kepada anak? Selalu harus memaksakan kehendak? Nggak perduli bagaimana perasaan sang anak. Sebegitu yakinnya Bapak dan Ibunya bahwa Prastiwi akan hidup bahagia dengan suami pilihan mereka.  Suatu ketika saat bapak dan ibunya sudah tiada, tinggallah Prastiwi dengan suami pilihan bapaknya itu. Kalau ternyata sang suami itu buruk kelakuannya, apa bapak dan ibunya tidak akan menyesal di alam kubur mereka? Kalau ternyata perilakunya hanya akan menyiksa lahir dan dan batin Prastiwi, apa itu yang dikatakan bahwa orang tua hanya ingin anaknya hidup bahagia?

Tapi jauh dari itu semua, seharusnya Bapak dan ibunya sadar, Prastiwi masih kecil. Usianya masih tujuh belas. Beberapa bulan lagi baru menginjak delapan belas. Tega banget Bapaknya memaksanya kawin di usia segitu? Dia masih ingin main dengan teman-temannya. Dia juga masih pengin sekolah, kuliah sampai lulus, lalu bekerja.  Memang kata Bapaknya pokoknya kenalan dulu, lalu  tunangan, baru menikah. Tetap saja saja semua itu membuat resah hatinya. Tidak tahu dengan cara apa dia akan berusaha melepas ikatan perjodohan itu.

“Perjodohan ini bukan saja rencana Bapak dan Ibu. Tapi Mbak Kakungmu juga sudah merencanakannya,” ujar ibunya. “Ini bagian dari wasiat Mbah kakungmu. Kalau kami nggak melaksanakan semua itu kami akan merasa bersalah.”

“Benar, kan? Prastiwi semata-mata hanya tumbal, kan?” sahutnya sinis.

“Prastiwi,”

“Ibu punya dua anak perempuan, kenapa bukan mbak Tari yang dijodohkan? Kenapa harus Prastiwi?!”

Wanita bersahaja itu menatap anak perempuannya dengan seksama. “Ibu mengatakan hal yang sebenarnya, Nak. Waktu itu kami sudah mengusulkan agar mbakyumu saja yang dijodohkan dengan cucu dari sahabat mbah Kakungmu itu. Tapi mereka lebih memilih menunggu bayi yang bahkan waktu itu masih dalam kandungan. Bayi itu adalah dirimu.”

Prastiwi terperangah mendengar pernyataan ibunya  itu. Benar apa yang dikatakannya. Bahwa dirinya tak lebih dari sebuah tumbal belaka. Bahkan dia dijodohkan ketika masih dalam kandungan. Hhhhh, sesak dada Prastiwi memikirkan kenyataan yang tidak masuk akal itu. Memangnya siapa orang yang akan dijodohkan dengannya itu? Apa dia seorang raja? Apa dia seorang penguasa? Apa dia manusia yang nggak punya otak sehingga mau dijodohkan dengan segumpal janin di dalam sebuah rahim?

Sifat otoriter itu memang melekat pada diri bapaknya. Sebelumnya Lestari, kakak perempuannya juga mengalami hal serupa dengannya. Hanya saja Lestari itu orangnya sangat penurut dan nrimo saja dengan apapun yang dikatakan bapaknya kepadanya. Ia seperti nggak punya pilihan setiap kali bapaknya memerintahkan harus begini atau harus begitu. Kalaupun ia punya keinginan lain dari yang Bapaknya minta, maka baginya keinginan dirinya itu menjadi nggak penting. Selulus sekolah Bapaknya memintanya meneruskan kuliah di IKIP, karena Bapaknya ingin dia menjadi guru. Dan Lestaripun sendiko dhawuh  (melaksanakan perintah) saja. Begitu juga yang terjadi pada Budi, kakak pertamanya. Memang Prastiwi nggak begitu memahami kejadiannya. Ia masih begitu kecil kala bagaimana Bapaknya memaksa anak laki-laki kebanggaannya itu mendaftar masuk Akabri. Dan apa wanita yang dinikahi Budi itu juga termasuk dalam program perjodohan dari bapaknya, entahlah. Tapi Prastiwi bisa menebaknya. Mengingat kakaknya Budi itu  sifat penurutnya dan sikap patuhnya pada orang tua sama persis sepeti halnya Lestari.  Namun begitu ia sangat berbeda ketika sudah mengenakan sergam dinasnya. Sangat gagah dan  ganteng. Tentu saja Prastiwi juga bangga melihat penampilannya. Tapi masalah melawan keegoisan Bapaknya itu, rasanya Budi takkan punya keberanian sebagaimana keberaniannya bertempur di medan perang.

* Jumlah  :  2.007 kata
* Total      :  6.248 kata





Selasa, 03 Januari 2012

4. Arik, cinta terpendam

        “Mosok iya sih Pras kamu nggak merasa kalau Arik itu suka sama kamu?”
Celetukan Yessi yang geram dan bernada setengah menginterogasi siang tadi itu terus mengganggu pikirannya. Ia ingat reaksi Sabrina yang turut mengiyakan, bahkan menambahi, “Bener lho Pras! Dia itu cinta mati sama kamu.”
       “Ihhh, apa sih?!” Prastiwi mengibaskan tangannya dengan risi ke arah dua temannya itu.
“Alba yang cerita!” cewek indo  itu berusaha meyakinkannya. “Arik mengungkapkan perasaannya itu sambil bersumpah dihadapan anak-anak lain. Di hadapan Adi dan Rudi juga. Tanya mereka kalau kamu nggak percaya!” tambahnya
         Entahlah. Masalahnya sebenarnya ia juga sudah mulai curiga dengan sikap Arik yang aneh selama hampir sebulan ini. Sering terlihat diam-diam memandanginya. Di hadapan banyak orang. Ketika semua orang tengah ngobrol seruh sambil bercanda, atau ketika semua orang sedang asyik bernyanyi-nyanyi ramai sambil diiringi gitar. Lalu sikapnya teramat baik dan teramat penuh perhatian. Sampai ia merasa risi, ngeri, takut anak-anak lain memergoki.
Suatu ketika mereka selesai kuliah, tiba-tiba Arik mengajaknya ke tempat parkir. Ia mengatakan akan menunjukkan sesuatu. Waktu itu Prastiwi disuruh menebak-nebak sendiri sampai mereka berada di tempat parkir. Ternyata Arik ingin menunjukkan mobil Jeep yang katanya sudah menjadi hak miliknya.
“Nanti pulangnya bareng aku saja, Pras. Aku akan mengantarmu,” ajak Arik dengan penuh bangga sambil mengelus bagian depan mobil klasik itu.
Prastiwi tertegun sesaat. “Enggak, ah!” sahutnya enggan.
“Kenapa?”
“Takut.”
“Takut kenapa?” Arik menatapnya dengan heran.
“Nanti pacarmu marah.”
“Pacar? Memang siapa pacarku? Kamu, kan?” tanyanya seolah serius.
Prastiwi tertawa menanggapi. Arik ikut tertawa Ia lalu membuka kap mobil dan menceritakan tentang kehebatan bagian-bagian tertentu dari mobilnya itu
Bukan alasan yang dibuat-buat kalau Prastiwi enggan diajak pulang bareng Arik.  Cowok itu memang pernah cerita tentang mobil Jeep milik papanya yang sudah dihibahkan kepadanya untuk dipakainya ke kampus atau ke manapun dia mau pergi. Bahkan untuk sekedar jalan-jalan atau naik gunung sekalipun. Tidak bisa dibayangkan Prastiwi akan naik mobil besar dan keren seperti itu bersama Arik.  Melewati tempat parkir dan menyusuri jalanan di sekitar area kampus menuju pintu gerbang kampus sana. Apa kata orang kalau melihat mereka berdua saja di dalam mobil begitu?
Prastiwi menggeleng-geleng membayangkan komentar miring tentang dirinya. Orang akan mengira dia hanya akan memanfaatkan Arik semata. Hanya numpang popularitas Arik sebagai orang yang banyak dibicarakan di kalangan cewek-cewek di kampus, juga sebagai orang yang menjadi kebanggaan bagi anak-anak di lingkungan pecinta alam.  Menurut infomasi, Arik adalah calon tunggal ketua umum pecinta alam di kampus pada periode mendatang.
Dan saat ini status mereka adalah pacaran. Ops, tidak! Prastiwi menggeleng keras. Itu adalah kerjaan anak-anak di sekretariat yang iseng menjodoh-jodohkan mereka sedemikian rupa hingga seolah-olah mereka menjadi pasangan yang benar-benar berpacaran. Padahal bohong. Mereka nggak ada apa-apa. Hanya teman. Murni hanya teman. Prastiwi nggak pernah deg-degan atau ge-er ketika Arik bersikap mesra padanya di hadapan anak-anak di sekretariat. Itu  hanya action dia semata. Tidak ada yang serius. Bisa jadi karena Arik sengaja ingin membuat cowok seperti Abdila, cowok yang katanya diam-diam naksir Prastiwi cemburu. Dan agaknya hampir semua orang percaya kalau Prastiwi dan Arik pacaran. Termasuk si Abdila. Termasuk pula si pencetus gosip yaitu Yudhit Sabrina dan Alba. Padahal kalau lepas dari pandangan mata seisi sekretariat, keduanya akan bersikap selumrah sikap asli mereka. Mereka berpencar dengan sikap  masing-masing. Tidak ada sikap sok mesra, gandeng tangan, apalagi panggilan sayang.
 “Pacarmu orang mana, Pras?” tanya Arik kemudian. Prastiwi pernah mendengar Arik melontarkan pertanyaan serupa beberapa waktu yang lalu.
Meski gengsi mengakuinya, tapi Prastiwi tak punya jawaban lain. “Nggak punya,” jawabnya  sesantai mungkin.
“Cowok yang kost di belakang kampus, kan?” tebaknya. “Aku sering melihatmu pergi ke belakang kampus. Kupikir kamu pasti menemui pacarmu. ”
Ha? Prastiwi ternganga antara heran dan bingung. Anak belakang kampus? Siapa? Namun sesaat Prastiwi menanggapi tebakan ngawur itu dengan cibiran. Arik hanya nyengir kuda. Menatapnya dengan senyum lucu serta tidak kuasa menyembunyikan cerita bohong yang barusan diciptakannya. Merekapun tertawa.
“Aisyah.  Anak Psikologi. Aku mengenalnya dulu ketika kami barengan  daftar kuliah.  Dan sampai sekarang kami tetap akrab meskipun tempat kuliah kami agak berjauhan. Beberapa kali dia mengajakku ke rumah kontrakannya. Dia mengontrak rumah di belakang kampus bersama enam  temannya.”
“Aisyah? Sepertinya aku pernah dengar namanya?”
“Aku pernah mengajaknya ke sekretariat. Waktu itu sekretariat penuh orang. Kulihat dia langsung membaur dan bercanda dengan Bagas, Rendi, dan semua orang di sana. Waktu pulang,  dia  mengatakan bahwa dia ingin mendaftar menjadi anggota pecinta alam.” Prastiwi berhenti dan tersenyum simpul membayangkan Aisyah dengan penampilan feminim dan alim dalam kesehariannya begitu akan masuk ke lingkungan anak-anak urakan di sekretariat pecinta alam. “Kayaknya fillingku mengatakan kalau Aisyah naksir seseorang di sekretariat,” gumamnya.
“Siapa?”
“Rendi, mungkin,” jawabnya tak yakin.
“Tukang gosip!” cetus Arik.
Prastiwi tertawa. Tapi di sela tawanya, pikiannya berkelebat tentang gosip yang beredar tentang mereka. Prastiwi merasakan kepalanya berdenyut selama beberapa saat. Apa benar Arik menyukainya? Kalau benar, maka persahabatan mereka akan bubar tidak lama lagi. Bagaimana mungkin dia juga menyukai Arik? Mustahil. Dan nggak mungkin.
Begitu Arik mengungkapkan perasaannya, Prastiwi akan membeberkan pula perasaannya, bahwa dia sungguh menganggap Arik hanya sebagai sahabat. Tidak lebih dari itu. Apa Arik akan bisa menerima ucapannya? Apa ia akan merasa jatuh harga dirinya oleh pengakuannya? Kecuali seisi sekretariat tidak mengetahui kedekatan mereka. Mereka semua menganggap dia dan Arik benar-benar pacaran. Itulah permasalahan yang sesungguhnya. Tanpa sadar ia menghela nafas.
“Aku hanya ingin fokus kuliah. Tidak ingin memikirkan hal-hal lain selain kuliah.  Aku harus cepat lulus, Rik. Kasihan ibuku,” ungkapnya dengan  serius dan sungguh-sungguh.
Arik menatapnya dengan nanar. Dan tatapannya meluruh membentuk gurat ketertegunan yang jauh memanjang. “Apa ibumu melarangmu pacaran?” tanyanya.
“Ibuku? Ah, enggak,” gelengnya.
“Lalu?” ia seakan ingin mendengar lebih jelas  jawabannya.
“Ini keputusanku sendiri.”
“Jadi kamu memutuskan sendiri nggak akan pacaran sampai kamu lulus?”
Prastiwi mengerlingnya, lalu memberikan jawaban berupa anggukan. “Yah, begitulah,”
“Bagaimana kalau tiba-tiba kamu ketemu cowok dan ternyata kamu jatuh cinta padanya?”
Prastiwi tersenyum mengejek. “ Siapa? Abdila?”
Arik tertawa.
“Nggak mungkin. Aku nggak akan semudah itu jatuh cinta, Rik.”
Prastiwi mengeluh diam-diam. Kalimatnya jelas tidak mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Ia hanya mengulur waktu, hanya meredam sesaat hempasan gejolak, dan tetap membuat Arik berharap padanya.
Meski berasal dari keluarga kaya, namun Arik tetap menomorsatukan urusan kuliah. Ia selalu terlihat serius dan tidak main-main untuk urusan satu itu. Tugas dari dosen baik berupa soal-soal, makalah, atau laporan praktikum tidak pernah dia hanya menyontek atau mengharapkan namanya tercantum begitu saja dalam sebuah kelompok tanpa bersusah payah dia ikut mengerjakan. Tidak. Sesibuk apapun dia.  Meski kelihatannya santai tapi IP-nya selama ini hanya selisih nol koma nol sekian dari IP Prastiwi. Itu yang membuat Prastiwi salut padanya.
“Oke, mau ke sekretariat sekarang?” ajaknya.
Arik mengiyakan. Lalu menutup kembali kap mobil sebelum berjalan bersama Prastiwi menuju arah  gedung di belakang sana. 

            *jumlah : 1.096 kata
Total : 4.241 kata


Senin, 02 Januari 2012

3. Gosip abu-abu


            Benar-benar gosip yang menggelikan. Batin Prastiwi. Dia dan Arik pacaran?  Kepalanya tergeleng beberapa kali. Ia bahkan tertawa sendiri seperti orang gila. Arik tak beda dengan teman-teman cowoknya yang lain. Kalaupun ia lebih dekat dan sering bareng kemana-mana, semata-mata karena kebetulan ia dan Arik sekelas dan sama-sama aktif ikut pecinta alam. Mosok iya, dari sekretariat ke kelas, atau dari kelas ke sekretariat mau jalan sendiri-sendiri? Nggak mungkin lah! Anak-anak saja yang iseng njodoh-njodohin dirinya sama Arik. Si Sabrina, sama pasangan gilanya si Alba. Dari merekalah sesungguhnya gosip itu bermuasal. Bagaikan sebuah asap, gosip itu ditiupkan ke segala  penjuru  kampus. Hingga mulai dari sekretariat, ruang kelas, bahkan di kantin. Semua orang membicarakannya. Sesekali ketika nampak ia dan Arik tengah melintas di suatu tempat, sebuah gerombolan mahasiswa yang tengah menunggu jam kuliah di depan kelas atau di dekat taman, sontak akan menepi memberi jalan untuk dia dan Arik. Tak luput dari mata Prastiwi, mereka terlihat berbisik-bisik satu dengan dengan yang lain sambil menunjuk-nunjuk arah dirinya dengan isyarat ekor mata mereka. Hmmm..... Ia kembali tergeleng.
Entah dengan Arik sendiri. Mustahil ia belum mendengar gosip itu. Tapi kenapa ia tenang-tenang saja? Setenang air danau yang tidak beriak sedikitpun oleh hembusan gosip yang menerpanya. Nggak mungkin Prastiwi akan mengusiknya dengan menanyakan tentang gosip murahan itu kepadanya. Mungkin Arik sama kayak dirinya. Nggak menganggap segala sesuatu harus ditanggapi dengan serius. Santai saja. Arik toh nggak mungkin naksir dirinya. Sama dengan dirinya yang nggak mungkin suka sama Arik.
Kuliah dimulai jam setengah tujuh theng! Pak Djati, dosen paling angker di seantero kampus nggak akan toleran terhadap mahasiswa yang telat meski dengan alasan apapun. Makanya meski dengan terkantuk-kantuk, ia dan pasti banyak mahasiswa lain di kelasnya berusaha datang tepat waktu. Ia melihat Arik menguap lebar ketika masuk kelas tadi dengan mata yang masih enggan terjaga. Sangat tidak bersemangat.
Di kantin, usai kuliah, nampak mereka duduk berhadapan dengan masing-masing menghadapi segelas kopi hitam yang mengepul di atas meja. Prastiwi meniup-niup kapi panasnya. Nggak sabar rasanya ingin segera menyeruput minuman sewarna comberan itu.  Wajahnya cantik. Dan selalu cantik dalam keadaan apapun. Bahkan ketika berada dibawah terik matahari dengan kulit wajah mulus itu berleleran keringatpun, tetap terlihat cantik. Juga saat berlepotan lumpur waktu pelantikan anggota pecinta alam dulu. Hitamnya lumpur tidak menghapus sedikitpun garis kecantikannya.
  "Rik," panggil cewek itu tiba-tiba. Arik tercekat. Nampak gugup, tapi agak rileks setelah menghirup sedikit minumannya.
"Kamu dengar gosip itu kan?" tanyanya akhirnya.
"Gosip? Oh, gosip?"
"Iya. Gosip yang mengatakan bahwa kita pacaran?" lanjutnya sambil berusaha menatap.
Arikpun tersenyum. Lalu menggaruk-garuk kepalanya. Oh, lega sekali Prastiwi begitu melihat reaksi itu. Tentu saja. Arik pasti menganggap dia adalah teman. Nggak lebih. Banyak cewek yang mengejar-ngejarnya selama ini. Di antaranya si peragawati  kampus yang cantik dan seksi itu. Juga anak ekonomi, si Reni. Dan ada lagi  Eva,  Tina, Risty. Kenapa harus dirinya?  Yang pasti ia lega setelah mengetahui reaksi lewat senyumannya itu.
"Ah, kamu kayak nggak tahu anak-anak saja," komentarnya makin membuat hatinya kian ringan tanpa beban.
"Iya. Aku tahu. Memang mereka suka mbikin gosip yang enggak-enggak."
"Kenapa, Pras? Kamu terganggu dengan gosip itu, ya?"
"Aku pikir justru kamu yang terganggu."
“Terganggu apa? Ah, aku biasa-biasa saja."
"Nanti cewek-cewek yang naksir kamu pada patah hati gara-gara gosip ngawur itu.”
“Cewek-cewek yang naksir aku? Siapa? Pacarmu mungkin yang marah.” Ia sempat berkilah dan membalikkan pertanyaannya.
Mata bundarnya melotot lucu.  Sementara bibirnya yang kemerahan mencibir. sebagai  reaksi antara geram dan sebal. Arik sambil hanya tersenyum simpul sengaja meledeknya. Ia masih ingat Prastiwi  pernah mengatakan nggak punya pacar.
"Kamu benar nggak punya pacar, Pras?" tanyanya masih ingin meyakinkan.
Prastiwi menegaskan dengan gelengan.
"Pras," Arik menatapnya dengan serius kini. Agak lama, begitu dalam dan mengandung sebuah pengharapan. 
 "Apa?" ia balas menatapnya, menunggu kalimatnya.
"Nggak. Nggak jadi. Lupakan saja," entah kenapa ia mengurungkan ucapannya. Kepalanya tergeleng beberapa kali.
“Kamu ini kenapa sih?!"
Cowok itu tetap bertahan dengan gelengannya.
Gadis dengan wajah polos dan kekanakan itu sesungguhnya tidak seperti yang tampak oleh kebanyakan orang. Arik mengenalnya lebih dekat dalam sebulan ini dan banyak kali dalam suatu perjalanan sebuah pendakian ke puncak gunung. Ia begitu keras dan sedikitpun tidak lembek. Ia tak pernah mengeluh atau bersikap cengeng seperti kebanyakan cewek.  Ia tidak gampang  kelelahan meski telah berjalan berpuluh kilo. Ia tidak memekik kepanasan ketika berada dibawah terik matahari. Atau ia hampir nggak pernah terdengar mengeluh kesakitan meski jatuh dan luka di bagian lengannya.  Entahlah, dalam banyak hal, Arik merasa begitu ingin bergantung dan terikat dengan seseorang yang  teguh dan kuat bagaikan batu karang itu. 
 Meski hatinya telah terpaut oleh pesonanya, namun ia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Entah sampai kapan ia akan memendam perasaan itu. Gosip yang beredar di kalangan anak-anak sekretariat itu sungguh bukan sesuatu yang begitu saja meletup di permukaan. Ia mengakui perasaannya itu di hadapan Alba, Rudi dan Adi. Dan suatu waktu ia ikut arus anak-anak menikmati minuman memabukkan. Dan di tengah mabuknya, ia berkicau dan mengoceh tentang gadis cantik bernama Prastiwi itu. (bersambung, ya!)

*) Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana dan aku publish di blog aku di Cenil's Blog