Sabtu, 03 Desember 2011

Novel tentang Perjodohan di J50K ? Kenapa Tidak?

Beberapa lama setelah Bapakku meninggal, seorang pak de datang ke rumah dan menyampaikan sesuatu pada kami (ibu dan aku). Pak de Zamil, kami memanggilnya adalah kakak ipar dari bapakku alamarhum. Jadi, istri dari pak de Zamil dan bapakku itu kakak beradik. Beliau seorang yang kuat beribadah dan hidup sebagai pengurus masjid hingga di akhir usianya dan juga seorang guru, kemudian dipindah ke pengadilan Agama. Maka ketika bapak tiada, ibu selalu datang ke pak de untuk meminta pertimbangan jika ada sesuatu permasalahan, misalnya ketika ibu hendak punya hajad seperti ketika hendak nyelamatin Bapak, ketika hendak mengkhitankan adik bontotku, juga ketika hendak mantu kakakku yang pertama.

Informasi yang disampaikan pada kami waktu itu cukup mencengangkan. Ceritanya pak de waktu itu adalah saksi dari sebuah persetujuan rencana perjodohan yang dilakukan antara bapakku dengan salah seorang teman sekolahnya, aku lupa siapa namanya. Dari keempat anak perempuan yang dimiliki bapakku, akulah yang dipilih untuk dijodohkan dengan anak temannya. Sedangkan anak dari teman Bapakku itu waktu itu masih belajar di Jerman. Bukan kepanjangan dari Jejer Kauman. Benar-benar di negara Jerman. 

Tapi wong ceritanya pak de waktu itu di saat Bapak sudah meninggal. Selang sebulan teman Bapak yang berencana akan berbesan itu juga meninggal karena kecelakaan. Begitulah pak de. Entah karena saking bijaksananya, atau karena baru ingat cerita itu. Karena dua orang yang berencana itu semuanya sudah tiada, maka cerita itu tinggalah cerita. Tidak akan ada yang penasaran atau menuntut ini itu.

Tapi cerita pak de itu sempat membekas di hatiku. Sampai sekarang aku selalu membayang bagaimana rasanya dijodohkan atau dipaksa menikah dengan seseorang. Rasanya sudah pasti jengah dan marah. Dan bagaimana ya rasanya ketika hidup dengan orang asing di mana orang asing itu adalah orang yang hendak kita layani 24 jam sehari selama hidup kita. Kalau orangnya baik dan cocok dengan kita. Kalau tidak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar